Sabtu, 17 Oktober 2015

Cerita Wayang Pandu Dewanata

Pandu Dewanata
Prabu Pandu
Dalam pewayangan, tokoh Pandu (Bahasa Jawa: Pandhu) merupakan putera kandung Abiyasa yang menikahi Dewi Ambalika, janda Wicitrawirya. Bahkan, Begawan Abiyasa dikisahkan mewarisi takhta Hastinapura sebagai raja sementara sampai Pandu dewasa.
Masa Muda Pandu
Pandu digambarkan berwajah tampan namun memiliki cacat di bagian leher, sebagai akibat karena ibunya memalingkan muka saat pertama kali menjumpai Begawan Abiyasa. Para dalang mengembangkan kisah masa muda Pandu yang hanya tertulis singkat dalam Mahabharata. Misalnya, Pandu dikisahkan selalu terlibat aktif dalam membantu perkawinan para sepupunya di Mandhura. Pandu pernah diminta para dewa untuk menumpas musuh khayangan bernama Prabu Nagapaya, raja raksasa yang bisa menjelma menjadi naga dari negeri Goabarong. Setelah berhasil melaksanakan tugasnya, Pandu mendapat hadiah berupa pusaka Minyak (lenga) Tala.
Dewi Kunti
Pandu kemudian menikah dengan Kunti setelah berhasil memenangkan sayembara di negeri Mathura. Ia bahkan mendapatkan hadiah tambahan, yaitu Puteri Madrim, setelah berhasil mengalahkan Salya, kakak sang puteri. Di tengah jalan ia juga berhasil mendapatkan satu puteri lagi bernama Gandari dari negeri Plasajenar, setelah mengalahkan kakaknya yang bernama Prabu Gendara. Puetri yang terakhir ini kemudian diserahkan kepada Dretarastra, kakak Pandu.

Begawan Abiyasa
Pandu naik takhta di Hastina menggantikan Begawan Abiyasa dengan bergelar "Prabu Pandu Dewanata" atau "Prabu Gandawakstra". Ia memerintah didampingi Gandamana, pangeran Pancala sebagai patih. Tokoh Gandamana ini kemudian disingkirkan oleh Sangkuni, adik Gandari secara licik.
Pandu dalam versi pewayangan Jawa.

Keluarga
Dari kedua istrinya, Pandu mendapatkan lima orang putra yang disebut Pandawa. Berbeda dengan kitab Mahabharata, kelimanya benar-benar putera kandung Pandu, dan bukan hasil pemberian dewa. Para dewa hanya dikisahkan membantu kelahiran mereka. Misalnya, Bhatara Dharma membantu kelahiran Yudistira, dan Bhatara Bayu membantu kelahiran Bima. Kelima putra Pandu semuanya lahir di Hastina, bukan di hutan sebagaimana yang dikisahkan dalam Mahabharata.

Kematian Pandu Dewanata

Dewi Madrim
Kematian Pandu dalam pewayangan bukan karena bersenggama dengan Madrim, melainkan karena berperang melawan Prabu Tremboko, muridnya sendiri.
Dikisahkan bahwa Madrim mengidam ingin bertamasya naik Lembu Nandini, wahana Batara Guru. Pandu pun naik ke kahyangan mengajukan permohonan istrinya. Sebagai syarat, ia rela berumur pendek dan masuk neraka. Batara Guru mengabulkan permohonan itu. Pandu dan Madrim pun bertamasya di atas punggung Lembu Nandini. Setelah puas, mereka mengembalikan lembu itu kepada Batara Guru. Beberapa bulan kemudian, Madrim melahirkan bayi kembar bernama Nakula dan Sadewa.

Sesuai kesanggupannya, Pandu pun berusia pendek. Akibat adu domba dari Sangkuni, Pandu pun terlibat dalam perang melawan muridnya sendiri, yaitu seorang raja raksasa dari negeri Pringgadani bernama Prabu Tremboko. Perang ini dikenal dengan nama Pamoksa. Dalam perang itu, Tremboko gugur terkena anak panah Pandu, namun ia sempat melukai paha lawannya itu menggunakan keris bernama "Kyai Kalanadah". Akibat luka di paha tersebut, Pandu jatuh sakit. Ia akhirnya meninggal dunia setelah menurunkan wasiat agar Hastinapura untuk sementara diperintah oleh Dretarastra sampai kelak Pandawa dewasa. Antara putera-puteri Pandu dan Tremboko kelak terjadi perkawinan, yaitu Bima dengan Arimbi, yang melahirkan Gatotkaca, seorang kesatria berdarah campuran, manusia dan raksasa.
Naik ke sorga
Istilah Pamoksa seputar kematian Pandu kiranya berbeda dengan istilah mokswa dalam agama Hindu. Dalam "Pamoksa", Pandu meninggal dunia musnah bersama seluruh raganya. Jiwanya kemudian masuk neraka sesuai perjanjian. Atas perjuangan putera keduanya, yaitu Bima beberapa tahun kemudian, Pandu akhirnya mendapatkan tempat di surga. Versi lain yang lebih dramatis mengisahkan Pandu tetap memilih hidup di neraka bersama Madrim sesuai janjinya kepada dewa. Baginya, tidak menjadi masalah meskipun ia tetap tinggal di neraka, asalkan ia dapat melihat keberhasilan putera-puteranya di dunia. Perasaan bahagia melihat dharma bakti para Pandawa membuatnya merasa hidup di sorga.

sumber: media seni budaya wayang Indonesia















Bambang Parikenan

BATHARA PARIKENAN 
Nama Batara Parikenan atau Bambang Parikenan adalah putra Bathara Brahmanaresi/ Bremani (pedalangan jawa) dengan Dewi Srihuna/Srihunon, putri Sanghyang Wisnu dengan permaisuri Dewi Sripujayanti. Ia mempunyai dua orang saudara seibu lain ayah, putra Dewi Srihuna dengan Bathara Brahmanasadewa/Brahmanaraja, kakak kandung Bathara Brahmanaresi, masing-masing bernama ; Dewi Srini dan Dewi Satapi.

Sejak kecil Bambang Parikenan tinggal di kahyangan Untarasagara dalam asuhan Sanghyang Wisnu dan Dewi Sripujayanti, karena ayahnya Bathara Brahmanaresi turun ke Arcapada hidup sebagai brahmana di pertapaan Paremana, pegunungan Saptaarga. Sedangkan ibunya Dewi Srihuna tinggal di kahyangan Daksinageni, kahyangannya Bathara Brahma.
Bambang Parikenan menikah dengan saudara sepupunya sendiri, Dewi Bramaneki, putri Prabu Basurata/Bathara Srinada raja negara Wirata dengan Dewi Bremaniyuta (Bathara Srinada adalah putra Sanghyang Wisnu dengan Dewi Srisekar/Sri Widowati, sedangkan Dewi Bremaniyuta adalah putri Bathara Brahma dengan Dewi Rarasyati). Dari perkawinan tersebut ia memperoleh empat orang putra masing-masing bernama ; Dewi Kanika. Kariyasa/Resi Manumayasa, Resi Manobawa dan Resi Paridarma. Resi Manumayasa kelak turun ke Arcapada membuat pertapaan di puncak Retawu, gunung Saptaarga, menikah dengan Dewi Kaniraras, turun-temurun menurunkan keluarga Pandawa dan Kurawa.

sumber : media seni budaya wayang Indonesia

http://youtu.be/jZYiycpoJvw
http://youtu.be/vIOzTC0gDrU
http://youtu.be/Nm_N-rDTmGs
Gendhing Jawa Hiburan Favorit

Pituture Wong Atuwo Nalika Semana,
" Wong enom aja wedi ing angel, nanging wedia ing gampang "













Selasa, 22 September 2015

Kisah Sang Hyang Tunggal Cerita Wayang

Sanghyang Tunggal (Dewa Pewayangan)


Dewa Khayangan
Sang Hyang Tunggal menikah dengan Dewi Darmani putri Sang Hyang Darmajaka (Darmakaya) raja Khayangan Keling (negeri Selong) yang tidak lain adalah kakak kandung Sang Hyang Wenang sendiri. Lalu Sang Hyang Tunggal dinobatkan menjadi raja di Khayangan Keling menggantikan Sang Hyang Darmajaka. Dari perkawinannya dengan Dewi Darmani, Sang Hyang Tunggal dikaruniai beberapa orang anak dalam wujud 'akyan' (jasad halus) mereka adalah : Sang Hyang Rancasan, Sang Hyang Rudra, Dewa Esa, Sang Hyang Dewanjali, dan Sang Hyang Darmastuti.
Sang Hyang Tunggal yang gemar membaca Serat (kitab) Pustaka Darya yang berwujud suara tanpa sastra (tanpa tulis) itu menjadi tertarik dengan kisah perjalanan Sang Hyang Nurcahya (kakek buyutnya). Ia memutuskan untuk meniru sang kakek buyut, yaitu bertapa untuk mencapai cita-citanya menjadi penguasa di tiga lapisan dunia (Tribuana/Triloka). Kahyangan Keling pun ia serahkan kepada putera sulungnya yaitu Sang Hyang Rudra.
Sang Hyang Tunggal
Sang Hyang Tunggal kemudian bertapa tidur di atas sebuah Batu Datar. Begitu heningnya ia bertapa, ketika terbangun ia telah berada di sebuah istana indah di dasar samudera. Tanpa sadar sebenarnya Sang Hyang Tunggal telah diculik oleh raja siluman kepiting bernama Sang Hyang Rekatama (Sang Hyang Yuyut) untuk dinikahkan dengan putrinya. Putri Sang Hyang Rekatama yang bernama Dewi Wirandi (Dewi Rekatawati) mengaku pernah bertemu dengan Sang Hyang Tunggal di alam mimpi, dan jatuh hati kepadanya. Karena itu adalah jalan untuk mewujudkan cita-citanya, maka Sang Hyang Tunggal menerima lamaran tersebut.
Sang Hyang Tunggal lalu membawa Dewi Wirandi (Dewi Rekatawati) ke istana Jonggring Salaka (Kahyangan Suralaya) di gunung Tengguru (Himalaya) untuk mendapat restu dari ayahnya. Kemudian Sang Hyang Wenang menyerahkan Kahyangan Suralaya kepada Sang Hyang Tunggal. Dan lalu Sang yang Wenang mokswa, tinggal di swargaloka awang-uwung kumitir.
Sang Hyang Tunggal kini bersemayam di Kahyangan Suralaya bersama kedua istrinya, Dewi Darmani dan Dewi Wirandi. Saat itu Kahyangan Suralaya masih belum berpenghuni lain selain mereka bertiga.
Pada suatu ketika, Dewi Wirandi yang hamil besar itu melahirkan, namun yang dilahirkan oleh sang dewi bukanlah sesosok bayi, tapi ia melahirkan sebutir telur.
Sang Hyang Tunggal bermuja semedi mengheningkan cipta masuk ke Swargaloka Awang Uwung Kumitir. Dihadapan Sang Hyang Wenang, ia menceritakan perihal telur yang dilahirkan oleh istrinya.

Dewa Dalam Seni Pewayangan
Sang Hyang Wenang memberi petunjuk dan memberikan air kehidupan “Tirta Kamandanu” kepada Sang Hyang Tunggal.
Sesuai petunjuk ayahnya, telur itu ia puja hingga meretak dan pecah berserakan menjadi tiga bagian, kulit, putih dan merah telur. Sang Hyang Tunggal menyiramkan ‘air kehidupan’ Tirta Kamandanu secara bersamaan kepada bagian telur yang tercerai berai. Secara ajaib, kulit, putih dan merah telur itu berubah menjadi tiga sosok bayi. Sang Hyang Tunggal memberi nama masing-masing bayi yang tercipta, dari kulit telur diberi nama Sang Hyang Antaga, sedangkan bayi yang tercipta dari putih telur diberi nama Sang Hyang Ismaya, dan bayi yang tercipta dari merah telur diberi nama Sang Hyang Manikmaya. Kelak ketiga putra Sang Hyang Tunggal ini akan mempunyai peran penting dalam meramaikan Jagat Pramuditya (wayang).

 

Tribuana (Perebutan Jamus Layang Kalimasada)


Setelahnya Sang Hyang Manikmaya dinobatkan menjadi Raja Tribuana di kahyangan Suralaya, maka Sang Hyang Tunggal dan kedua isterinya yaitu Dewi Darmani dan Dewi Wirandi mokswa menuju swargaloka sunyaruri. Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga untuk sementara waktu ditugaskan mendampingi Sang Hyang Manikmaya, sebelum mereka nantinya turun ke marcapada.
Sang Hyang Manikmaya bergelar Sang Hyang Jagatnata atau Sang Hyang Otipati (Batara Guru atau Batara Tengguru). Bersama Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga, ia mulai menata Suralaya, membuat kahyangan-kahyangan baru yang akan diperuntukan bagi persemayaman para dewa yang menjadi keturunannya nanti. Namun walau pun demikian, Sang Hyang Manikmaya mempunyai ganjalan dihatinya, sebab ia telah mendengar bahwa kakak sulungnya yang lain ibu dari Dewi Darmani, yaitu Sang Hyang Rudra / Sang Hyang Dewa Esa / Sang Hyang Rancasan yang menjadi raja di kahyangan Keling (negeri Selong) telah membangun dengan megah kahyangan yang dahulunya telah diwariskan oleh Sang Hyang Tunggal. Bahkan, konon menurut kabar yang ia dengar, Sang Hyang Rudra / Sang Hyang Dewa Esa / Sang Hyang Rancasan mulai dipuja-puja oleh para pengikutnya. Hal ini dianggap Sang Hyang Manikmaya akan merongrong kewibawaannya sebagai Raja Tribuana, maka tersirat dalam benaknya untuk menyingkirkan kekuasaan lain yang menyaingi Suralaya.

Sang Hyang Manikmaya berupaya keras mencari cara untuk dapat menyingkirkan Sang Hyang Rancasan. Harus ada alasan, sebab selain Sang Hyang Rancasan adalah kakak sulungnya walau beda ibu, tapi juga Sang Hyang Rancasan memiliki kesaktian yang luar biasa. Tidak mungkin baginya sendiri dapat mengalahkan Sang Hyang Rancasan, maka tidak ada jalan lain kecuali menghasut kedua saudaranya, yaitu Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga.
Dihadapan Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga ia menceritakan kegelisahan hatinya, yaitu keberadaan kahyangan Keling yang telah dianggap akan menandingi kahyangan Suralaya. Sang Hyang Manikmaya juga menghasut kedua saudaranya, bahwa Sang Hyang Rancasan berkeinginan merebut Suralaya dan ingin menjadi raja Tribuana. Selain itu, Hyang Manikmaya bercerita juga tentang sebuah pusaka yang konon dikeramatkan oleh leluhur mereka. Pusaka yang sangat luar biasa, tidak tertandingi oleh pusaka-pusaka lainnya di jagat pramuditya, pusaka Jamuslayang Kalimasada.

Menurut Hyang Manikmaya, Jamuslayang Kalimasada sebenarnya diwariskan secara turun temurun oleh para leluhur mereka, tapi kemudian oleh ayahanda mereka dititipkan kepada putra Hyang Rancasan sebagai puytra yang tersulung sebelum ayahanda mereka melakukan tapa brata dan terdampar di negeri Samudralaya. Menurut Sang Hyang Manikmaya pusaka tersebut bukanlah dianugerahkan atau diwariskan kepada Hyang Rancasan, sifatnya hanya ditipkan untuk sementara waktu.
Awalnya Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga tidak terpancing oleh pengaduan Sang Hyang Manikmaya, namun karena kecerdikan Sang Hyang Manikmaya dalam menghasut, maka Sang Hyang Ismaya dan Sang Hyang Antaga pada akhirnya berubah pikiran setelah mendengar kisah pusaka Jamuslayang Kalimasada. Mereka lalu sepakat untuk bertandang ke kahyangan Keling (negeri Selong) guna meminta kembali pusaka Kalimasada yang dianggap telah ditipkan ayah mereka kepada kakak sulungnya.
Setibanya di kahyangan Keling, Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Manikmaya langsung menghadap kakak sulungnya. Sang Hyang Rudra / Sang Hyang Rancasan yang bergelar Sang Hyang Dewa Esa menyambut baik kedatangan ketiga adiknya itu, mereka lalu terlibat pembicaraan.
Dalam percakapan selanjutnya diantara mereka, Sang Hyang Manikmaya meminta pusaka Jamus Layang Kalimasada dengan alasan untuk disemayamkan di Jonggring Salaka sebagai pusaka kadewatan, karena dirinya telah dinobatkan menjadi raja Tribuana di Suralaya. Dengan halus Sang Hyang Rancasan menolak, ia menganggap pusaka itu adalah amanat leluhur yang harus ia jaga & dipertanggung jawabkan amanatnya. Sang Hyang Manikmaya menuduh sulungnya telah melawan keputusan ayahanda mereka yang telah menobatkan dirinya sebagai raja Tribuana. Perbincangan berganti dengan perdebatan, dan akhirnya Sang Hyang Manikmaya menantang Sang Hyang Rancasan untuk mengadu kesaktian. Perang tanding pun tidak terelakan lagi diantara mereka.

Bumi gonjang-ganjing, marcapada kembali diguncang oleh nafsu angkara murka putra-putra Sang Hyang Tunggal. Gunung-gunung menggelegar mengeluarkan laharnya, bukit-bukit longsor bermuragan. Perang tanding terjadi antara Hyang Manikmaya dengan Hyang Rancasan. Keduanya saling mengadu kedigjayaan dan saling memamerkan aji-aji kesaktian. Namun dalam perang tanding itu, terlihat Sang Hyang Rancasan lebih unggul dibandingkan Sang Hyang Manikmaya. Beberapa kesaktian dan pusaka-pusaka kadewatan milik Manikmaya tidak mampu menghadapi kesaktian dan kedigjayaan Sang Hyang Rancasan. Saat Sang Hyang Manikmaya bertiwikrama menjadi berhala sewu, Hyang Rancasan tidak kalah hebat, ia bertiwikrama lebih besar dari raksasa jelmaan Hyang Manikmaya. Begitu seterusnya, setiap Manikmaya masuk ke dalam perut bumi, Hyang Rancasan ada dibelakangnya. Dan setiap Manikmaya berdirgantara di angkasa, Rancasan pun selalu ada di belakangnya. Manikmaya keteteran menghadapi kesaktian Hyang Rancasan, maka Sang Hyang Antaga dan Sang Hyang Ismaya segera terjun ke palagan yuda demi membantu Manikmaya, keduanya langsung menerjang Sang Hyang Rancasan. Mereka menyerang secara serempak dari segala penjuru, ada yang menyerang dari arah depan saling berhadapan, ada yang menyerang dari belakang, dari angkasa dan dari bawah bumi.

Perang kejayaan diantara mereka menggemparkan marcapada. Terjadi hujan badai, angin prahara, halilintar dan kobaran api yang disebabkan oleh kekuatan-kekuatan gaib mereka hingga menghancurkan kahyangan Keling dan meluluh lantakan bumi Selong. Dan hingga pada akhirnya, Sang Hyang Rancasan palastra ditangan saudara-saudaranya. Tubuhnya terbelah menjadi dua oleh sebab terjadi saling tarik menarik diantara Sang Hyang Ismaya, Sang Hyang Rancasan dan Sang Hyang Antaga. Namun sesaat setelah kematian Sang Hyang Rancasan, di atas angkasa terdengar suara tanpa rupa yang tidak lain adalah ‘ruh’ dari Sang Hyang Rancasan yang tidak menerima perlakuan saudara-saudaranya. Ia mengancam, kelak disuatu hari akan menuntut balas atas perbuatan mereka. Ia akan selalu membayang-bayangi kekuasan Manikmaya dan akan selalu mengikuti langkah Ismaya juga Antaga di marcapada. Ketiganya tertegun mendengar ancaman dari ruh Hyang Rancasan. Kesadaran dan penyesalan selalu berada diakhir kisah setelah semuanya terjadi, terlebih lagi perbuatan mereka telah mengusik ketenangan Sang Hyang Tunggal di swargaloka sunyaruri. Sang Hyang Tunggal dalam wujud suara tanpa rupa mengutuk perbuatan Manikmaya yang telah menghasut kedua saudaranya hingga membunuh kakak sulung mereka. Kelak Hyang Manikmaya akan menerima karmanya, yaitu kakinya akan menjadi kecil sebelah dan lemah, maka dengan begitu ia akan mendapat julukan sebagai Sang Hyang Lengin. Giginya akan bertaring sebesar buah randu dan dinamakan Sang Hyang Randuana. Tangannya akan bertambah menjadi empat dan akan mendapat nama Syiwa, dan yang terakhir dalam perjalanannya nanti tubuhnya akan terbakar oleh racun ganas sehingga menjadi biru, maka namanya pun bertambah menjadi Sang Hyang Nilakanta.
Sang Hyang Manikmaya tidak bisa berbuat apa-apa selain hanya pasrah menerima kutukan dari ayandanya, begitu juga dengan Sang Hyang Ismaya dan Antaga. Perihal pusaka yang diperebutkan itu kini telah diambil kembali oleh Sang Hyang Tunggal dan pada saatnya nanti pusaka itu akan diwariskan kepada para kesatria marcapada yang sanggup mengembannya, Jamus Layang Kalimasada.

sumber: media seni budaya wayang Indonesia 

motto
*** Warisan budaya nasional atau warisan budaya daerah adalah cermin tingginya peradaban bangsa.

*** Melestarikan budaya nasional warisan leluhur sebagai wujud jati diri dan watak bangsa Indonesia

gendhing jawa